Berdasarkan Penelitian, Pria Sulit Move On dari Patah Hati


Bagi yang pernah menjalani hubungan dengan pengalaman buruk, tentu mengalami patah hati. Patah hati ini mungkin dikhianati pasangan, ditinggal karena memilih orang lain, atau boleh jadi cinta yang belum sempat diungkapkan. Mungkin juga patah hati karena orang yang dicintai itu telah meninggal. Sehingga menyisakan luka yang begitu dalam bagi yang ditinggalkan.
Karena itu pula di antara pasangan yang meninggal duluan, orang yang ditinggal dalam waktu tidak begitu lama akhirnya menyusul. Ya, karena patah hati tak hanya menyerang psikis saja, tapi juga organ-organ vital pada manusia. Kasus seperti ini sering terjadi di lingkungan kita, namun terkadang hanya menyorot soal fisiknya saja, tanpa mendalami latar belakang psikisnya.
Untuk menjabarkan bagaimana patah hati ini bekerja menyerang seseorang, khususnya kaum pria yang sulit move on, penulis mengutip dari berbagai sumber. Tentu saja penulis mengutip dari situs terpercaya dan pakar psikolog terkemuka. Sehingga artikel ini bisa jadi informasi atau refrensi bagi yang mengalami patah hati atau ingin membantu korban yang mengalaminya.
Dampak dari patah hati kepada otak sangat luar biasa, hingga memengaruhi cara kita berpikir. Sama seperti pecandu yang sedang sakau, sulit bagi mereka untuk berpikir dengan baik. Selain itu tidak ada batas waktu tertentu berapa lama kita akan merasakan efek dari patah hati. Efeknya bisa dirasakan selama beberapa minggu, bulan, atau bahkan beberapa tahun.
Nah, penjelasan itu membuktikan kenapa seseorang yang sedang patah hati terkadang bersikap konyol. Bahkan yang lebih ekstrem lagi berani melukai tubuhnya sendiri. Dan kita tahu ternyata pada titik seperti itu otaknya sudah tidak normal lagi. Sebagaimana pecandu yang kehilangan akal sehatnya.
Psikolog klinis Ramani Durvasula, mengutip Liputan6.com dari Glamour, mengatakan suasana hati orang yang patah hati itu campur aduk mulai dari sedih, ragu, dan marah. Bahkan pada hubungan yang lama dan serius patah hati bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Sehingga butuh waktu untuk bisa beralih dari perasaan sedih patah hati.
Boleh jadi seorang remaja atau pun yang sudah dewasa wajahnya selalu muram, tidak selera makan, dan menjadi kurus. Dan akhirnya jadi saki-sakitan, itu karena patah hati pada level yang cukup berbahaya. Karena jika itu berlanjut bisa memengaruhi penyakit lainnya. Ini bisa lebih parah lagi pada saat pandemi Covid-19, karena virus ini menyasar orang-orang yang imunnya lemah.

Komentar

Posting Komentar